Bangun Berdiri

Aku
Cucu seorang negeri pertiwi
Duduk di atas lawat pohon intaran
Siang itu mataku kaku
Termangu melihat cahaya usang… silam…
Mengalun merdu menyusuri sensorikku

Kala senyumnya masih biru
Kala fajar siang bolong masih membuatku membeku
Nenek pernah bilang
Ini pusaka panjang membentang
Garam merauke larut di pasir sabang
Nenek juga bilang
Nyiur hijau pohon kelapa mewarnai ladang
Yah..
Memang…
Semuanya saat musik kolonial masih berdendang

Tapi sekarang ?
Senyuman terik mentari buatku terjaga
Melihat bumi Indonesiaku tergenang
Berjuta pasang mata berlinang

Dimana ?
Diamana gemilau laut Nusantaraku?
Dimana paru-paru indonesiaku?
Diaman kalian kawan?
Rindu Indonesiaku di ujung rambutmu
Di sudut lidahmu
Di belakang hatimu

Bangun…
Bangun kawan !
Nenek tak berkhayal
Nenek tak berdongeng

Tak bosankah kamu?
Berlayar di atas kedigjayaan duniawi
Tak jenuhkan kamu?
Diombang-ambingkan ombak Nusantara yang penuh sampah dan ludah
Dungu
Bebal
Busuk

Jangan berdiam diri melihat air mataku
Jangan berdiam diri mendengar ratap dan kertak gigi
Buah pinggangku sudah remuk
Rongga dadaku t’lah dalam tertusuk
Habis kikis ekspirasiku dalam tangisan tak berujung
Habis kikis ekspirasiku dalam duka lara nestapa

Berdirilah kawan..
Angkatlah bangsa ini..
Kita belum terbuang
Kita sanggup tuk terbang
Terbang tinggi melayang
Bersama sayap sang Garuda

Categories: Sastra (Cerpen dan Puisi) | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: