Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba pada Generasi Muda

Di abad 21 ini, bangsa Indonesia  masih memiliki banyak permasalahan nasional, salah satunya adalah narkoba.  Di Indonesia, jumlah pengguna narkoba begitu besar dan  sebagian besarnya adalah kaum muda.  Walaupun berkali-kali pembersihan Nusantara dari narkoba telah santer digaungkan, namun peredaran narkoba masih merajalela. Bertahun-tahun lamanya tunas-tunas bangsa Indonesia terancam punah akibat eksistensi penyalahgunaan narkoba. Penyalahgunaan narkoba dan zat adiktif lainnya itu tentu membawa dampak yang luas dan kompleks. Dampak-dampak penyalahgunaan narkoba, misalnya, perubahan perilaku, gangguan kesehatan, menurunnya produktivitas kerja secara drastis, kriminalitas, dan tindak kekerasan lainnya.

Narkoba adalah singkatan dari narkotika, psikotropika dan barang adiktif lainnya. Contoh-contoh narkoba adalah, heroin, yang biasa beredar di kalangan elit, seperti kafe malam, dan bar. Sementara itu, ganja, jenis narkoba yang peredarannya sampai ke kawasan-kawasan terpencil Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh sifat ganja yang mudah untuk ditanam di lahan tropis negara kita. Pengedaran narkoba di Indonesia biasanya datang dari dalam negeri dan juga internasional.

Narkoba marak peredarannya di dunia kaum muda, baik pria maupun wanita, dan korbannya pun tidak memandang usia, baik siswa SD, SMP maupun mahasiswa perlahan terjerat akan godaan narkoba ini. Drugs traffickers atau yang lebih dikenal dengan pengedar narkoba sering beraksi di lingkungan sekolah dengan siswa sebagai target utamanya. Jurus-jurus jitu menghindari deteksi sekolah memang mereka kuasai, tetapi mengingat sifat narkoba yang adiktif dan menuntut dosis yang lebih tinggi, maka perlahan kedok-kedok pengedar narkoba akan terkuak juga. Pengedar-pengedar dengan motif ini biasanya mengubah tampilan narkoba dari bentuk tablet, suntikan, maupun serbuk menjadi bentuk permen atau minuman yang lebih menarik untuk korbannya. Siswa sekolah yang tidak mempunyai pengawasan yang cukup dari pihak sekolah maupun orangtua biasanya adalah korban yang sering terjerat. Remaja labil yang biasanya menjadi korban dengan kebebasan pergaulan, korban broken home, salah persepsi tentang “gaul” dalam pergaulannya, dan bahkan ada juga korban yang bermula dari niat mencoba-coba karena rasa ingin tahu. Namun perlahan secara sadar ataupun tidak mereka menjadi ketergantungan dengan narkoba. Saat fase-fase ini terjadi, kriminalitas, kekerasan, dan dampak-dampak negatif lainnya pun bermunculan. Keterbatasan uang saku atau biaya untuk memenuhi nafsu ketergantungan korban, akhirnya, mereka akan melakukan apapun yang membahayakan dirinya maupun orang lain, misalnya dengan mencuri, mengancam orang tua untuk memberikan uang, dan apabila hal tersebut gagal dilakukannya, korban atau sang pemakai narkoba tersebut akan menyakiti dirinya sendiri agar dapat menenangkan dirinya.

Penggunaan narkoba dengan jarum suntik atau injeksi, sering kali menjadi pemicu meningkatnya persebaran virus HIV/AIDS. Faktor-faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah jarum suntik yang sering kali digunakan berulang kali maupun bergilir yang sangat tidak terjamin kehigenisannya dan juga kontak cairan tubuh antar pengguna narkoba maupun dengan orang yang tidak menggunakan narkoba. Hal tersebut lagi-lagi menunjukkan bahwa narkoba benar-benar berbahaya bila dibiarkan “menjamuri” negara kita.

Fakta-fakta yang ada menunjukkan bahwa narkoba adalah hal yang sudah tidak asing di dalam bangsa ini. Dampak yang ditimbulkan sudah jelas, merusak generasi muda, menimbulkan permasalahan kompleks di masyarakat, bahkan perlahan menuntun integritas bangsa ke ambang-ambang perpecahan. Perlu kita sadari, bahwa ini adalah sebuah ancaman bagi seluruh generasi bangsa Indoensia, ancaman yang berpotensi merusak kualitas, peradaban, dan keberadaan mendatang bangsa kita. Apakah benar bangsa Indonesia masih belum pintar untuk berbenah diri? Ya, kita memang masih belum cukup pintar untuk hal itu. Seharusnya kita bisa belajar dari masa lalu yang gelap yang pernah dan bahkan masih menggoyangkan betis-betis Nusantara. Lalu apakah hari ini adalah terlambat untuk menyelamatkan bangsa Indonesia? Tidak ! Apakah mungkin narkoba tidak dapat dihentikan? Mungkin! Mungkin apa bila kita masih tidak pintar. Selama bangsa ini masih berdiri, tidak pernah ada kata sia-sia untuk menyelamatkan diri. Apabila seluruh elemen bangsa ini bersatu memerangi narkoba, narkoba pasti bisa dihentikan. Lingkungan terkecil di masyarakat adalah keluarga. Keluarga adalah lingkungan pertama yang dijumpai seseorang. Keluarga juga merupakan lingkungan pokok tempat seseorang untuk bertumbuh. Maka, strategi preventif yang dapat dilakukan adalah dimulai dari lingkungan keluarga. Penekanan pada peran orang tua sebagai pendidik perlu diperhatikan. Hal-hal yang dapat dilakukan misalnya memberikan pendidikan sosial kepada anak sejak kecil, memantau interaksi sosial yang mereka lakukan dan juga menjadi orang tua yang bersahabat bagi anak. Lalu, hal efektif apakah yang bisa kita lakukan sebagi generasi muda? Satu-satunya jalan adalah hindari narkoba.  Dengan menghindari narkoba, hal-hal berbahaya yang dapat mengancam diri sendiri dan bahkan bangsa ini pun bisa dihindari. Bayangkan, apabila 10 orang perhari dari setiap pulau-pulau di Nusantara mengatakan tidak pada rayuan narkoba dan bertekad untuk tidak berkecimpung dalam dunia narkoba, berapa tunas negeri ini yang dapat diselamatkan demi masa mendatang? Maka dari itu marilah kita hindari dan jauhi serta ikut memberantas penggunaan narkoba.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: