Bab Terpendek

“ Owh ya selamat tahun baru, I hope the best future for us, to spend the fullest of our journey of life.. Happy New Year, Adek🙂 , ”

“Thanks. Tapi sorry ni siapa yak?”  Balasku ketus menanggapi pesan singkat kesembilan yang aku terima di malam tahun baru itu.

Kak Daniel, Tata -_- ”  Layar Hp Nokia bututku menampilkan balasan dari nomor Hp yang sama.

Tahun baru terdatar pertama dalam list New Year event-ku. Hanya mengirim, menerima dan menunggu SMS ucapan tahun baru dengan Hp-ku. Itu lah “acaraku” untuk menyambut tahun baru saat itu.

Sejak kematian Kak Suta, kakak sekaligus saudara kembarku tahun lalu, aku tidak pernah menghirup nafas lebih banyak dari hari ini, untuk tertawa, ataupun menangis. 7 September 2011, Kak Suta meninggal sepulang mengantarku kembali ke asrama tempatku tinggal sekaligus bersekolah.

Aku nggak tahu mama sedang apa dengan pasien-pasiennya di rumah sakit. Yah.. Mungkin sedang mengadakan pesta tahun baru di ruang mayat dengan kerabat dokternya, atau membalut luka korban lakalantas yang sempoyongan dan cegukan dengan aroma beer, whiskyvodka atau wine di malam tahun baru itu. Hmm.. Papa? Aku tidak tahu apa yang sedang beliau lakukan di ruang tamu, setidaknya aku yakin bahwa sekarang ruang tamu itu penuh dengan asap rokok tembakau yang biasa beliau beli di warung sebelah rumahku.

Tahun baru dengan berbagai kondisi baru yang mesti aku terima. Kamar kecil dengan poster-poster musisi Barat seperti Dragon Force, dan Lamb of God peninggalan Alm.Kak Suta dengan alunan musik mellow Kenny G dan musik biola Dong Yo kesukaanku adalah setting ekstrem yang harus aku terima malam itu. Segelas Pepsi dingin yang sudah diterjang sekelompok semut dan beberapa bungkus snack yang aku beli sore tadi merupakan pelengkap yang “lumayan” untukku jika ku bandingkan dengan New Year Party tahun lalu, saat aku dan Kak Suta menghadiri Pesta Tahun Baru di gereja.

“Ohh.. Kakak .. J Aku kira siapa tadi. Nomor baru yah,Kak? “

“Iya, Dek. :3 hiihi ,”

Daniel 3 tahun lebih tua dariku. Dia adalah teman sekelas Kak Suta. Kak Suta pernah curcol (curhat colongan)  denganku beberapa bulan lalu bahwa Daniel menyukaiku, tapi Daniel merasa bahwa aku tak pantas didekati olehnya. Aku telah mengenal Daniel sejak 3 tahun lalu. Kak Daniel yang merupakan sahabat Kak Suta sudah mengenal bagaimana keadaanku, dan keluargaku. Begitu pula aku, dalam beberapa kali aku dekat dengan lelaki itu, aku mengetahui betul siapa dan bagaimana kehidupan laki-laki periang itu. Memang, beberapa kali aku sempat dekat dengannya, namun tidak ada hubungan spesial yang pernah aku buat dengan pria itu. Hanya sebatas adik dan kakak.

“Aselolee.. Kak Daniel ganti Nomor Hp kea ganti kolor ajje +_+ ,”

“Aselolee.. Kak Daniel ganti Nomor Hp kea ganti kolor ajje +_+ ,”

“Aselolee.. Kak Daniel ganti Nomor Hp kea ganti kolor ajje +_+ ,” Pesan singkat ketiga yang aku kirim, dengan harapan bahwa itu adalah yang terakhir dariku.

“I’ll give the world to make you……”

Halo? Siapa ya?” Bergegas ku jawab panggilan masuk di Hp-ku itu dengan penasaran. Panggilan masuk dengan Nomor Pribadi adalah hal tercemen yang dilakukan oleh seorang pengecut bagiku. Saat itu yang ku dengar hanyalah lantunan lagu Jason Mraz, You and I Both. Aku memang menyukai lagu ini, namun rasa penasaran membuatku terbakar emosi.

“Heh! Kalo emang kesepian tahun baru gini, ke laut ajje loe! Nggak usah telvon-telvon orang gak jelas gini!” Sambarku.

“Hahahahahahaaa… “ Tawa lantang itu itu membuatku makin membara.

Udahlah! Gue masih punya DVD buat dengerin lagu yak!” Ucapku dengan nada yang hampir mengalahkan suara petasan malam itu.

“Ampun mbak.. Maaf.. Galak amat sih. Hahaha..” Jawab penelepon misterius itu.

“Gak usah banyak bacot deh loe! Ini siapa ?!” Balasku.

“Emm.. Emmm… Emmmm…. Siapa coba?” Jawaban konyol menyebalkan dilontarkan pria itu.

“Wah, ni orang ngajak berantem yak?”

“Yah..yah.. dianya marah. Ampun, Adek. Ini kakak.” Balas laki-laki dengan suara serak-serak basah itu dengan nada memelas.

“Kakak? Kakak siapa?”

“Kak Daniel, Adek. Cihuiii… Berhasil, berhasil, horee!!” Jawabnya.

Tidak! Seketika aku merasa jantungku berdetak mengalahkan kecepatan cahaya. Tubuhku beku. Ya Tuhan, Apa dosaku hari ini sampai-sampai aku harus berkata kasar dengan laki-laki sebaik Kak Daniel. Ingin rasanya aku mengambil sebilah parang lalu menelannya dan mati. Malu, salah tingkah, gembira membuat seteguk Pepsi yang ku telan malam itu terasa hambar.

Percakapan dengan Kak Daniel mengobati kesendirianku di tengah malam tahun baru itu. Kak Daniel adalah laki-laki kocak, ramah, mandiri, dewasa, dan hampir perfect untukku. Physically, dia adalah laki-laki yang sederhana dengan gaya berpakaian simple yang aku sukai. Pepatah habis gelap terbitlah terang berlaku malam itu. Setelah kegalauan gelap malam itu, akhirnya Kak Daniel datang sebagai terang untuk kegelapan itu.

“Iya.. Hebat banget adik dari ceritanya dik.. :3 kagum Kak. J “

Itulah isi pesan singkat Kak Daniel setelah percakapan mengasyikkan via telepon 2,5 jam tadi. Sanjungan Kak Daniel tadi membuatku salah tingkah. Padahal aku hanya menceritakan sedikit dari pengalamanku di sekolah. Itu pun atas permintaannya. Dia memang sering melakukan hal itu. Sedikit menyebalkan bagiku, sebenarnya. Dia sering memujiku ku anggap itu agak belebihan. Aku tidak suka ketika dia  merendahkan dirinya.

Jam digital peninggalan Alm.Kak Suta menunjukkan pukul 03.55 a.m.. Mata yang lumayan berat memaksaku untu mengakhiri percakapan dengan Kak Daniel subuh hari itu.

“Pagiiii Y(^_^)/” Sms pertama yang aku terima pada pukul 09.08 pagi.

“Jiaah.. Baru bangun, Kak?” Balasku.

“Udah tadi sih, tapi tidur-tiduran dulu tadi,”

“Njiaah.. Gubrak!”

Percakapan itu terputus. Entah kemana perginya laki-laki itu. Namun, pada malam hari, sekitar pukul 21.03, Kak Daniel muncul lagi di kotak masukku.

“Adik lagi ngapain?”Pertanyaan standar darinya pun dilontarkan

“Belajar doank, Kak. Hehehe…”

“Ngegangugu ya Kakak? -_- Maaf.. Jangan di bales lagi!”

“Bwekk >.< Tata bales.😀 Santai aja, Kak. Kakak malah buat Ta gak ngantuk belajarnya😀 hehehe. Hmm.. Kak tidur dah, besok sekolah kan? Jangan dibales. Kalo dibales Ta gak akan angkat telvon Kakak lagi kapan-kapan. :p ” Jawabku dengan perasaan gak karuan mengakhiri percakapan itu.

“>.< “ Hanya tiga simbol itulah yang menjadi balasan Kak Daniel, tanpa kata.

Sejak beberpaa hari belakangan itulah aku mulai menjalin hubungan yang lebih dekat lagi dengan Kak Daniel. Beberapa kesempatan yang kandas dahulu, kini datang kembali. Kedekatanku dengan Kak Daniel adalah special bagiku karena saat aku dekat dengan  laki-laki itu, dia selalu menyemangatkanku dalam masa-masa sulitku, baik di keluarga maupun di sekolah. Dia selalu ada saat aku butuh. Selama sisa liburanku itu, aku sering bercerita padanya bahwa aku sering mengalami kendala di mata pelajaran Kimia di sekolahku. Kak Daniel lebih dari sekedar ada sebagai sahabat mauun kakak untukku. Kak Daniel selalu menyemangatkanku, bahkan dia mengenalkanku pada gurunya untuk mengikuti les Kimia selama beberapa hari di sisa liburanku. Ya, aku merasa sangat beruntung mengenal laki-laki itu.

“Semangats J kalo gak suka coba liat dari perspective yang berbeda , Adeekkk, Keep fighting! I believe u can! ^^ ” Sms Kak Daniel yang setiap malamaku baca. Hehehe.

Suatu malam, aku berdoa agar matahari tidak terbit secepat sebelumnya, karena lusa aku harus kembali ke asrama, sekolahku.

Keesokan harinya, langit tampak tidak secerah biasanya. Pukul 06.03, Sambaran petir yang bersahut-sahutan membangunkanku dari tidur malamku. Aku tak ingin membuka mata, karena aku tak ingin melewati hari itu dan menerima esoknya tiba.

“I’ll give the world, to make you mine…..” Pagi-pagi teleponku sudah berdering.

“Happy birthday Marmut, happy birthday, Marmut, happy birthday, happy birthday, happy birthday Marmut. Adek, selamat ulang tahun ya. Sukses selalu, jangan pernah nyerah buat segalanya. “ Suara itu, panggilan itu, aku mengenalnya. Kak Daniel.

“Astaga. Makasih ya, Kak .Ta aja lupa kalo sekarang tanggal 5 Januari. Makasi banyak, Kakak.” Sahutku. Percakapan pagi itu berlangsung hanya beberapa menit setelah ucapan dari Kak Daniel di telepon.

Ayah, Ibu, aku tak tahu mereka di mana. Saat aku mencari mereka ke setiap ruangan, yang aku temukan hanya seloyang kue tart di atas meja di ruang makan, 17 lilin kecil di atasnya dan secarik pesan di sisi kanannya.

“Selamat ulang tahun, Nak. Semoga panjang umur dan Tuhan berkati terus. Mama ke rumah sakit mengirim pasien sekarat tadi di telvon. Mama diantar papa. We love you, Tata.”

  Perfect. Aku tidak pernah bermimpi untuk ini semua. Saat itu hanya Kak Daniel yang ku rasa ada dan peduli padaku. Dia mampu menggantikan Alm.Kak Suta, kakak yang sangat aku sayangi.

“Dik, nanti sibuk nggak?” Kak Daniel mengirim pesan singkat kepadaku.

“Umph.. Engga, Kak. Emang kenapa , Kak?”Balasku kilat.

“Nanti kakak mau ajak kamu jalan-jalan. Adik siap-siap ya, jam 6 sore habis les Kimia nanti kakak yang jemput. Bilang sama mamamu, ya. Sekalian nanti kakak yang nganter pulang, ok. ”

Akhirnya aku iyakan ajakan Kak Daniel tersebut. Sepulang les Kimia terakhir di rumah Pak Ardi, Kak Daniel telah menungguku di teras rumah Pak Ardi dengan motor bebek modifikasi miliknya.

“So, kita mau kemana, Kak?” Ujarku sambil memakai helm Kyt pemberian Alm.Kak Suta di ulang tahunku setahun lalu.

“Emm… Kemana ya? Tempat di sini ya gitu-gitu aja, Dik. Ngebosenin.” Jawabnya.

“Lha? Kemana donk? Ke laut aje lu! Hehe.. “ Balasku gemas melihat raut muka Kak Daniel yang sok imut.

“Okelah, naik aja dulu, Tuan putri. Gak usah cerewet. “

Di perjalanan, aku dan Kak Daniel membicarakan banyak hal. Sekolah, keluarga , hingga tidak tahu mengapa, Kak Daniel mengatakan bahwa Dia merasa nervous bersamaku saat itu. Sebenarnya aku merasakan hal yang sama. Ketika dia menggenggam erat tanganku, dan menciumnya. Aku tidak pernah menyangka hal itu bisa terjadi padaku dan dirinya.

Cuaca buruk tadi pagi melawat hari hingga malam itu. Hujan gerimis membasahi malam itu. Cepat ku rasakan waktu berlalu di perjalanan, hingga akhirnya aku dan Kak Daniel sampai di sebuah pantai. Basah, dingin. Ya, bersama Kak Daniel aku merasa saraf-sarafku sudah tidak merasakan kedua hal itu.

Aku sangat menyukai pantai dan Kak Daniel mengetahui itu. Pantai itu adalah pantai yang lumayan terkenal di daerahku. Angin pantai, lampu-lampu restoran berkilauan menghiasi jalan-jalan di tepi pantai. Lantunan musik akustik romantis dari restoran di sisi pantai menyempurnakan keindahan malam itu.

“Gimana? Keren kan tempatnya?” Tanya Kak Daniel sambil masih menggengam tanganku.

“Iya , kak. Ini mah lebih dari keren. Ta baru pernah loch malem-malem gini ke pantai ini. Sebenernya dulu sempet mau ke sini sama Kak Suta bareng temen-temennya, tapi gak jadi mulu.”

“Adik suka gak? Musiknya keren kan? Hehehe.. “ Tanya Kak Daniel lagi.

I love it, bro. “ Jawabku singkat.

Kak Daniel mengajakku ke sebuah karang di tepi pantai. Gemuruh ombak menambah suasana romantis malam itu. Kami berbincang berdua, di tepi pantai. Membicarakan tentang masa depan. Menjadi apakah setiap di antara kami kelak ? Dan hingga berhilir pada pertanyaan, akankah kita bertemu lagi di kesempatan lain?

“Ta, semangat ya. Kakak gak mau ketemu Ta, kalo Ta gak jadi orang sukses nanti. Ta pasti bisa bahagiain orang tua nanti.” Nasihatnya di sela-sela curhatku pada Kak Daniel malam itu.

“Kakak, juga harus semangat. Ujian bulan April nanti, Kak harus dapet nilai yang bagus, ya. Ta traktir deh kalo Ta pulang lagi. Hehehe.” Jawabku.

“Yah, kakak usahain ya, Adek. Hehe,” Balasnya.

Tidak ku sadari hujan semakin deras dan kami pun basah kuyup malam itu.

“Ta, Kakak sayang sama Ta, kakak sayang banget. Kak pengen buat Ta bahagia, tapi Kak gak tau mesti gimana. 1 yang kakak ngerti, kalo untuk bahagia itu nggak harus bersama. Cuma ini yang bisa kak kasi buat adek. Adik harus cari orang lain yang lebih baik, yang bisa buat Adik tersenyum lebih dari ini, ya. ” Ujar Kak Daniel ditengah  perbincangan kami pada malam itu.

Tidak kusadari aku telah menangis dalam pelukannya malam itu. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan. Di bawah hujan malam itu Kak Daniel memelukku erat. Dia berbisik,”Kakak sayang Tata.”

“Jangan tinggalin Ta, Kak. Ta ngerasa udah gak penting lagi hidup tanpa orang-orang yang Ta sayang.”

“Adik, jangan terburu-buru menyimplkan apa arti hidupmu. Kakak hanya sebuah pohon ditepi jalan. Kakak bisa memberimu keteduhan, tapi tak selamanya engkau berteduh di bawahku, ada kalanya dirimu harus melanjutkan perjalananmu meninggalkan aku hingga engkau sampai pada tujuanmu. Besok, kalo Ta udah balik ke asrama, Ta harus lebih semangat. Buat orang tuamu bangga, jangan kecewain mereka ya, Dik.” Kata-kata Kak Daniel  itu membuatku semakin erat memenggenggam tangannya.

Semakin deras hujan malam itu, semakin ku tak ingin beranjak dari itu semua. Kak Daniel membuka jaketnya dan memakaikannya untukku. Kak Daniel tidak sengaja meneteskan air mata sambil tersenyum di hadapanku. Dia mengusap air matanya dan air mataku. Selera humor Kak Daniel yang tinggi menghiburku. Dia menceritakan banyak hal tentang dirinya dan kehidupann dari sudut pandang humornya. Aku sangat menikmati malam itu, saat bahagia dengannya.

Bibir Kak Daniel sudah membiru dan aku pun sudah membeku. Tidak terasa bulan semakin gelap, dan tak terlihat, malam itu pukul 21.33, kami pun pulang.

“Kak, makasih ya buat malam ini. Adik gak pernah ngira bisa dapet saat-saat seperti tadi.” Ujarku dalam dekapannya di perjalanan pulang.

“Iya , Adik. Kakak bahagia kalo adik bahagia. Huehe.”Cetusnya masih dengan nada humornya.

“Salam buat tante ya, Dik. Om juga. Kapan-kapan kakak main ke sini, ok. Yang semangat belajarnya, inget tu ya, bodo. Hehehe. Bukan nilai yang dicari, tapi sekeras apa adik belajar dan berusaha, selanjutnya hanya bersyukur. Maafin kakak yang bodoh dan lemah ini yang gak cocok bersanding denganmu.”

Akhirnya aku pun sampai di rumah. Kak Daniel pergi dengan pesannya tadi dan sebuah kecupan di keningku. Aku berdiri di tepi jalan, mengiringi Kak Daniel pergi hingga menoleh sebentar sebelum hilang di kejauhan.

“Bab ini sangat pendek sekali. Bab terpendek dalam hidup tapi berakhir dengan bahagia tanpa penyesalan. Hanya bab ini J .” isi pesan singkat Kak Daniel yang sampai di Hp-ku beberapa menit kemudian.

“Iya, Kak. That was a greatful moment ever. “ Jawabku dengan hati miris setelah membaca SMS Kak Daniel barusan.

“Inget ya, Ta harus belajar lebih semangat lagi. Bantai aja tu Kimia sekarang, ok? Hehehe.. Coba merenung, gak berpikir mau kuliah, kerja di mana, bisa bahagiain orang tua gak nanti, gak ngecewain orang tua kah nanti. Semangat ya! J Mungkin kalo kita ketemu lagi, mungkin mengatakan “itu” lagi, semoga yang kemarin bukan yang pertama dan yang terakhir!”” Lagi-lagi Kak Daniel membuatku lebih semangat untuk menjalani kehidupanku.

Semalam pun berlalu dengan penuh kenangan dan makna. Pagi pun tiba dengan hari dan cerita baru. Aku harus kembali ke asrama. Pagi-pagi sekali aku dan mama bergegas berangkat.

“Kak, Ta jalan ya. Kakak jangan nakal di sini. Hehe.. Semangat Rabitt!” Sebelum berangkat aku mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Kak Daniel.

“I’ll give the world to make….”

“Halo, Rabit? Ada apa?” Ku jawab panggilan masuk dari nomor kak Daniel itu dengan riang.

“Maaf, ini tante, Dik. Ini Tata kan? Daniel semalem masuk rumah sakit karena sakit jantungnya kumat, dia tidak sadarkan diri, kritis,  sampai dini hari tadi. Subuh tadi kurang lebih jam 4 dokter bilang Daniel sudah tidak bisa diselamatkan, Dik.”

Aku merasa jantungku berhenti saat mendengar penjelasan Tante Ira, ibu Kak Daniel, tadi.

“Kenapa Kak Daniel gak pernah cerita ke Tata kalo dia punya sakit jantung, Tante?!” Jawabku mendesak Tante Ira agar menjawab pertanyaanku.

“Tante gak tau, Dik. ­­­Daniel juga gak pernah cerita sama tante.sebelumnya kalo sakitnya sampai separah ini. Sekarang ­­kita sudah gak bisa buat apa-apa lagi. Semuanya sudah terjadi, Nak. Tante juga kaget tau semua ini. Tapi mau gimana lagi. Kita doakan saja biar Daniel diterima di sisi Tuhan.”

Setelah mendengar jawaban Tante Ira tadi. Aku menutup telepon dan tak bisa ku tahan air mata berlinang dan jatuh dari kedua mataku. Ingin rasanya aku kembali pada malam tadi dan tidak akan ku biarkan semuanya berlalu. Kak Daniel, dan kenangan-kenangan itu.

Aku tidak bisa menghadiri upacara penguburan Kak Daniel karena aku harus kembali ke sekolahku pada hari itu. Meskipun begitu, aku mencoba tegar, berusaha untuk tetap tersenyum dan semangat, seperti yang Kak Daniel inginkan kepadaku.

Di sekolah, aku menjadi semakin semangat menjalani kehidupanku. Berusaha belajar dan terus belajar. Walaupun hanya SMS dan kenangan pendeknya yang tersisa di hidupku, tapi semangat dan perasaan ini selalu ada sampai waktunya tiba nanti, di mana aku dan dia bisa bertemu, di keadaaan yang berbeda, dan mengatakan “itu” lagi.

“Kak Daniel benar, semua itu adalah bab terpendek, yang sangat pendek. Selamat jalan, Kakak. Selamat tinggal kenangan terindah.”

Categories: Sastra (Cerpen dan Puisi) | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: